PRIORITASKAN PEMBANGUNAN BANDARA DAN PELABUHAN, MENHUB : ATAMBUA BENTENG NEGARA KITA Minggu, 30 Oktober 2016 | Post by: Admin Portal
PRIORITASKAN PEMBANGUNAN BANDARA DAN PELABUHAN, MENHUB : ATAMBUA BENTENG NEGARA KITA

KUPANG. Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi didampingi Direktur Jenderal Perhubungan Laut Tonny Budiono, Direktur Operasi Pelindo III Rahmat Satria, dan Direktur Bandar Udara Yudhi Sari Sitompul, Sabtu (29/10) hingga Minggu besok (30/10) bertolak menuju sejumlah daerah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Selain melihat sarana dan prasarana transportasi guna mendukung pariwisata, kunjungan kerja Menhub Budi kali ini diprioritaskan pada peninjauan daerah perbatasan dan upaya peningkatan fasilitas transportasinya.

"Saya datang ke NTT dan NTB dalam rangka melihat secara jelas bagaimana sarana transportasi yang ada di kedua provinsi ini, karena wilayah di sini kan pulau-pulau. Saya menyadari bahwa saudara-saudara kita di NTT dan NTB belum sama kondisinya dengan yang di Jawa dan Sumatera," ujar Menhub Budi.  

Pada kunjungan kerjanya hari ini (29/10) Menhub Budi kunjungi Kupang, Atambua dan Maumere. Menurutnya, Atambua harus menjadi fokus perhatian pemerintah. Hal ini dikarenakan Atambua adalah daerah perbatasan yang harus dijaga."Saya ingin lihat situasi langsung lapangan agar dapat memutuskan langkah apa untuk memperbaiki sarana transportasi agar kelancaran konektivitas udara dan laut bisa berdampak terhadap mobilitas barang dan jasa," tandas Menhub Budi saat tiba di Bandara A.A. Bere Tallo Atambua, Sabtu (29/10) siang.

Kedatangan Menhub Budi disambut langsung oleh Ketua Komisi V DPR RI Fary Djemy Francis dan Bupati Belu Willybrodus Lay.

Menhub mengaku akan berupaya mewujudkan konektivitas di Atambua. “Atambua akan jadi benteng negara kita, pertama nanti runway bandaranya yang saat ini baru 1.450 meter akan kita perpanjang menjadi 1.600 sampai 1.700 meter agar ATR bisa jalan, kedua pelabuhan Atapupu di Atambua akan kita perbaiki," ujar Menhub Budi.

Menurutnya dengan adanya pelabuhan dan bandara yang baik maka akan mendukung arus logistik barang. "Prioritas pembangunan bandara dan pelabuhan untuk tingkatkan kesejahteraan masyarakat perbatasan. Kalau pelabuhan dan bandara bagus, movement logistik bagus, maka bisa mengajak orang Timor-Timor ke Atambua," katanya.   

Menhub Budi menambahkan kunjungan kerjanya kali ini ingin memotret lebih detail potensi dan hambatan di Atambua sebagai daerah perbatasan, sehingga nantinya akan mendapat dukungan terutama terkait pariwisata. 

Pada kunjungannya ke Atambua, Menhub Budi juga berkesempatan bertemu dengan salah seorang warga bernama Markus Maose yang sepakat untuk menyerahkan sertifikat tanah seluas tiga hektar yang diperuntukkan perpanjangan runway Bandara A.A. Bere Tallo Atambua, “Jadi Bapak Markus Maose ini telah sepakat untuk pembebasan tanah seluas tiga hektar yang nantinya akan dipergunakan untuk perpanjangan runway bandara sesuai harga yang telah disepakati”, tambahnya.



MENHUB BUDI KUNJUNGI KUPANG

Menhub Budi memulai kunjungan kerjanya di Provinsi NTT dan NTB dengan mengunjungi Kupang. Pesawat mendarat di Bandara El Tari, Kupang pada pukul 12.50 WITA. Tiba di Kupang, Menhub Budi disambut langsung oleh Gubernur NTT Frans Lebu Raya. Menhub Budi memulai kunjungan kerjanya ke Kepulauan Sunda Kecil dari Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Lalu dilakukan perbincangan singkat di ruang VIP, Bandara El Tari, Kupang. Di sini, Frans Lebu Raya menyampaikan beberapa laporan terkait pembangunan infrastruktur di Provinsi NTT.

"Pada 13 Desember nanti Presiden akan ke Kupang. Kemudian di Maumere untuk ground breaking sebuah waduk. Kita harapkan, Presiden juga ikut launching jembatan Palmerah yang menghubungkan dua pulau," kata Frans Lebu Raya di lokasi, Sabtu (29/10/2016).

Frans menjelaskan, kata Palmerah itu kerap disebut oleh warga karena berasal dari gabungan nama dua desa yang dihubungkan jembatan tersebut. Diketahui, jembatan itu menghubungkan Desa Palau di Pulau Adonara dan Desa Tanah Merah di Pulau Flores.

"Sehingga warga menyebutnya dengan Jembatan Palmerah. Tapi secara resmi akan disebut Jembatan Pancasila. Kami ingin mengingatkan kalau Pancasila lahir di NTT," kata Frans.

Frans menambahkan, di bawahnya itu ada arus laut yang kencang. Jadi akan dipasang turbin agar bisa menghasilkan listrik dari arus tersebut. Menhub Budi mengapresiasi langkah Pemerintah NTT yang begitu komunikatif dengan pemerintah pusat. Menurutnya, sebagai daerah kepulauan, konektivitas memang jadi hal yang penting. Terlebih, NTT juga memiliki satu daerah terluar, daerah yang berbatasan langsung dengan negara lain. Maka diharapkan, konektivitas yang ada dapat meningkatkan kemakmuran masyarakat.

"Ini provinsi kepulauan dan ada pulau terluar yang berbatasan dengan negara lain. Kita harus berikan konektivitas. Hal ini untuk mewujudkan kemakmuran. Maka kita akan optimalkan bandara yang sudah ada. Memperpanjang landasan. Secara khusus soal pelabuhan, ada kegiatan intensif. Akan kita perbaiki juga," ucap Menhub Budi.

  • berita